Senin, 06 Mei 2013

Masalah Pertumbuhan Ekonomi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Selama ini banyak negara sedang berkembang telah berhasil menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, tetapi masih banyak permasalahan pembangunan yang belum terpecahkan, seperti : tingkat pengganguran tetap tinggi, pembagian pendapatan tambah tidak merata, masih banyak terdapat kemiskinan absolut, tingkat pendidikan rata-rata masih rendah, pelayanan  kesehatan masih kurang, dan sekelompok kecil penduduk yang sangat kaya cenderung semakin kaya sedangkan sebagian besar penduduk tetap saja bergelut dengan kemiskinan. Keadaan ini memprihatinkan, banyak ahli ekonomi pembangunan  yang mulai mempertanyakan arti dari pembangunan.
   Mengingat konsep pertumbuhan ekonomi sebagai tolok ukur penilaian pertumbuhan ekonomi nasional sudah terlanjur diyakini serta diterapkan secara luas, maka kita tidak boleh ketinggalan dan mau tidak mau juga harus berusaha mempelajari hakekat dan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi tersebut. Pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Sedangkan pembangunan ekonomi ialah usaha meningkatkan pendapatan per kapita dengan jalan mengolah kekuatan ekonomi potensial menjadi ekonomi riil melalui penanaman modal, penggunaan teknologi, penambahan pengetahuan, peningkatan ketrampilan, penambahan kemampuan berorganisasi dan manajemen.

1.2.  Perumusan Masalah
            Hal yang akan dibahas mengenai hal yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara dan upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Masalah Pertumbuhan Ekonomi
Masalah pertumbuhan ekonomi adalah masalah global. Bagi masyarakat awam, mungkin negara maju dianggap akan terbebas dari segala macam masalah termasuk masalah ekonomi. Kenyatannya, tak ada satu negara pun di dunia ini yang bisa terbebas dari lingkaran setan tersebut. Mari kita bahas satu per satu masalah ekonomi, seperti apakah yang ada pada masing-masing negara.

2.2. Masalah Pertumbuhan Ekonomi di Negara Maju
Permasalahan ekonomi di negara maju mungkin dianggap tidak terlalu rumit. Sama halnya seperti orang kaya yang "tak mungkin" akan bermasalah dengan stabilitas perekonomian keluarga. Padahal, negara maju pun tak luput dari masalah ekonomi. Ingin bukti? Lihat saja kondisi Amerika Serikat, salah satu negara adidaya, beberapa tahun terakhir ini dari sisi ekonomi.
Kurang lebih tiga tahun yang lalu, publik sempat dikagetkan dengan peristiwa bangkrutnya Lehman Brothers, perusahaan jasa keuangan raksasa dunia. Bangkrutnya perusahaan raksasa tersebut tentu mengakibatkan efek samping yang tak bisa dianggap remeh. Yang merasakan tak hanya Amerika, namun juga hampir semua negara di dunia ini. Ibarat pondasi, Amerika merupakan pondasi utama yang menopang bangunan di atasnya. Ketika ada kerusakan di salah satu bagian pondasi, bangunan di atasnya pun akan ikut goyang.
Kebangkrutan salah satu perusahaan raksasa di bidang jasa tersebut ibarat virus. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, perusahaan- perusahaan yang bisa dikategorikan besar juga ikut berjatuhan atau setidaknya "koma". Kondisi perekonomian yang tidak stabil tersebut berimbas ke mana- mana. Nilai saham yang jatuh hingga ke level minus, pengangguran meningkat, dan kriminalitas bertambah banyak.
Masalah ekonomi di negara maju berkaitan dengan bagaimana negara maju tersebut mempertahankan kondisi perekonomiannya agar tetap stabil. Dari sisi produktivitas, negara maju adalah negara yang tingkat produktivitasnya tinggi. Banyak produk-produk baru yang bermunculan dari tahun ke tahun. Kualitas jasa yang diberikan juga terus meningkat.
Namun, bagaimana cara mempertahankan kedua hal tersebut, itu yang menjadi masalah. Bila kita mengingat terguncangnya beberapa negara adidaya beberapa puluh tahun yang lalu, opini kita pun akan semakin kuat, kalau yang menghancurkan sesuatu yang sudah besar bukanlah kondisi eksternal melainkan internal. Enron, salah satu perusahaan raksasa di bidang energi salah satu contohnya. Siapa yang menduga bahwa perusahaan super raksasa itu bisa habis "hanya" karena pihak manajemennya diduga melakukan moral hazard, yaitu berupa penyalahgunaan atas laporan keuangan. Kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan bukan?
Jatuhnya Enron saat itu bisa dibilang peristiwa besar yang mengguncang peradaban ekonomi dunia. Karena kebangkrutannya, salah satu kantor akuntan publik (KAP) berskala internasional, yaitu Anderson di-delisting. Sungguh ironis. Lagi- lagi pertanyaannya sama, apakah kebangkrutan Enron tersebut berimbas ke segala aspek kehidupan? Ya, sudah tentu. Negara lain yang sebelumnya sudah memiliki masalah pertumbuhan ekonomi yang cukup serius, kondisinya bertambah parah karena bangkrutnya Enron.
Jadi, bila ada yang bilang negara maju itu pasti tak memiliki masalah pertumbuhan ekonomi, hal itu adalah salah besar. Negara maju tetap memiliki masalah ekonomi yang harus diwaspadai. Masalah tersebut bisa diatasi dengan mempertahankan stabilitas ekonomi dan meningkatkan integritas dari pihak-pihak internal, yang biasanya justru menjadi musuh dalam selimut.




2.3. Masalah Pertumbuhan Ekonomi di Negara Berkembang
Berbeda dengan negara maju, masalah pertumbuhan ekonomi di negara berkembang sangat mudah dilihat. Tak perlu jauh- jauh mencari siapa contoh negara berkembang itu, karena Indonesia sudah bisa kita jadikan bahan analisis. Apa masalah ekonomi yang ada di negara berkembang? Berikut ini adalah beberapa masalahnya.

2.3.1.    Gempuran produk dan jasa dari luar
Poin pertama ini berhubungan dengan perdagangan bebas yang mulai dilakukan oleh banyak negara termasuk negara kita. Mudahnya produk dan jasa dari luar untuk keluar masuk ke negara kita, telah menjadi ancaman tersendiri bagi produsen dalam negeri. Namun, sebenarnya hal tersebut justru menjadi tantangan untuk merangsang kreativitas. Apa jadinya bila kita hidup "sendiri" tanpa ada rival. Tentu perjuangan kita tak akan maksimal. Jadi, persaingan entah dari mana asalnya, sebenarnya adalah sesuatu yang mutlak terjadi dan tak seharusnya kita hadapi secara manja.

2.3.2.    Kurangnya dukungan pengadaan barang dan jasa
Masalah pertumbuhan ekonomi berikutnya di negara berkembang, berhubungan dengan dukungan terhadap pengusaha baru. Banyak pengusaha yang curhat seperti ini, "Bagaimana bisa berkembang coba, belum-belum udah "dipalak" sana-sini dengan alasan kontribusi, keamanan, dan uang kerjasama!" Ya, dilema memang. Di satu sisi, kita disuruh untuk kreatif dengan menciptakan banyak lapangan kerja. Namun di sisi lain, pungutan liar masih ada di mana-mana. Ibarat sebuah kondisi kita sedang berada di dalam sumur. Ketika kita ingin keluar dari sumur yang gelap tersebut, dan ingin merasakan hangatnya sinar matahari, kaki kita ditarik oleh orang-orang yang juga sama-sama berada di dalam sumur.


2.3.3.    Kurangnya kreativitas
Sekalipun jumlah orang-orang kreatif meningkat dari waktu ke waktu, namun sejujurnya kita masih kekurangan orang-orang kreatif. Hal itulah yang juga akan menjadi masalah ekonomi. Tak ada kreativitas itu artinya mati. Bila saat ini kita adalah mahasiswa yang baru saja lulus dan tak juga mendapatkan pekerjaan, apa yang akan kita lakukan? Memulai usaha atau bertahan menjadi pengangguran bergengsi? "Malu dong, masa sarjana jualan?" begitu salah satu contohnya. Padahal, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa bisa terus naik karena banyaknya orang-orang kreatif di negara tersebut.
Bila tak ada yang kreatif, mungkin tak ada yang akan menciptakan kendaraan dan alat komunikasi. Namun, di negara berkembang, biasanya para penduduknya masih suka mengikuti tren. Kebanyakan dari mereka akan malu bila berjalan sedikit "menyimpang" dari teman-temannya. Hal tersebut bisa jadi, karena negara berkembang biasanya sudah "terbiasa" dijajah oleh bangsa lain. Sehingga pola pikir menurut dan patuh itu sangat membudaya. Sedangkan pola pikir nyeleneh atau tampil beda itu dianggap melanggar aturan. Padahal pola pikir dan sikap nyeleneh yang positif adalah bagian dari kreativitas yang mungkin bisa bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi bangsa.

2.3.4.    Kurangnya apresiasi terhadap penemuan yang bermanfaat
Masalah pertumbuhan ekonomi lainnya di negara berkembang adalah kurang adanya apresiasi atau dukungan terhadap penemuan-penemuan di bidang ekonomi yang bisa bermanfaat bagi banyak orang. Bahkan, lebih sering mungkin sikap nyinyir yang akan diperlihatkan ketika penemuan tersebut tercipta.

2.4.    Permasalahan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia
Permasalahan pokok yang dihadapi oleh negara sedang berkembang terletak pada hasil pembangunan masa lampau, dimana strategi pembangunan ekonomi yang menitikberatkan secara pembangunan dalam arti pertumbuhan ekonomi yang pesat ternyata menghadapi kekecewaan. Banyak negara dunia ketiga yang sudah mengalami petumbuhan ekonomi, tapi sedikit sekali manfaatnya terutama dalam mengatasi kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan dalam distribusi pendapatannya. Jurang si kaya dan si miskin semakin melebar. Penganggur dan setengah menganggur di desa maupun di kota semakin meningkat. Problem dari masalah kemiskinan, serta keadaan perumahan yang tidak memadai.
Ketimpangan dan ketidakmerataan serta pengangguran tidak hanya dalam kontek nasional, tetapi dalam konteks internasional yang memandang negara-negara yang sedang berkembang sebagai bagian peningkatan interdependensi (saling ketergantungan) yang sangat timpang dalam sistem ekonomi dunia. Di negara maju titik berat strategi pembangunan nampaknya ditekan untuk mengalihkan pertumbuhan menuju usaha-usaha yang menyangkut kualitas hidup. Usaha-usaha tersebut dimanifestasikan secara prinsip dalam perubahan keadaan lingkungan hidup.
Pada prinsipnya problem-problem kemiskinan dan distribusi pendapatan menjadi sama-sama penting dalam pembangunan negara tersebut. Penghapusan kemiskinan yang meluas dan pertumbuhan ketimpangan pendapatan merupakan pusat dari semua problem pembangunan yang banyak mempengaruhi strategi dan tujuan pembangunan. Oleh karena itu ahli ekonomi mengemukakan bahwa untuk perbaikan jurang pendapatan nasional hanya mungkin bila strategi pembangunan mengutamakan apa yang disebut keperluan mutlak, syarat minimum untuk memenuhi kebutuhan pokok, serta yang dinamakan kebutuhan dasar.
Pengalaman pembangunan di banyak negara dewasa ini menunjukkan, bahwa terdapat pertentangan antara gagasan dan praktek pembangunan ekonomi. Gagasan pembangunan kontemporer berpendirian, bahwa globalisasi akan selalu memberikan efek positif yang menguntungkan. Pada prakteknya itu tidak selalu terjadi. Krisis finansial yang melanda Asia Timur dan Asia Tenggara merupakan contoh ekses negatif globalisasi. Globalisasi dan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai tidak selalu diikuti pemerataan dan keadilan sosial.
Hal ini selanjutnya membawa kita pada dilema pokok dalam gagasan pembangunan, yaitu adanya perdebatan di antara para pakar tentang strategi yang seharusnya didahulukan, antara pertumbuhan dan pembangunan. Kelompok pertama menyatakan, bahwa pertumbuhan ekonomi harus didahulukan untuk mencapai tujuan-tujuan lain dalam pembangunan. Kelompok lainnya berpendapat, bahwa bertolak dari tujuan yang sebenarnya ingin dicapai, maka aktivitas yang berkaitan langsung dengan masalah pembangunan itulah yang seharusnya didahulukan, sehingga tercapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Perdebatan ini menarik untuk diikuti karena masing-masing kelompok berpendapat dengan argumen yang kuat.
Profesor Mubyarto dan Profesor Bromley mempunyai gagasan baru dalam pembangunan, yaitu tentang pentingnya peran kelembagaan dalam pembangunan. Selama aspek kelembagaan belum diperhatikan dengan baik, maka akan sulit untuk merumuskan dan melaksanakan aktivitas pembangunan yang mendukung terwujudnya pemerataan sosial, pengurangan kemiskinan, dan usaha-usaha peningkatan kualitas hidup lainnya. Aspek kelembagaan ini berperan penting dalam meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat, khususnya masyarakat miskin, dalam memanfaatkan kesempatan ekonomi yang ada. Inovasi dalam kebijakan publik semacam ini akan senantiasa memberikan perhatian terhadap tiga hal penting, yaitu etika, hukum, dan ilmu ekonomi.
Etika menekankan pada persepsi kolektif tentang sesuatu yang dianggap baik dan adil, untuk masa kini maupun mendatang. Hukum menekankan pada penerapan kekuatan kolektif untuk melaksanakan ethical consensus yang telah disepakati. Sementara itu, ilmu ekonomi menekankan pada perhitungan untung rugi yang didasarkan pada etika dan landasan hukum suatu negara.




BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari penjelasan tadi, bisa kita simpulkan bahwa tak ada satupun negara di dunia ini yang terbebas dari masalah pertumbuhan ekonomi. Namun, masalah tersebut sebenarnya malah memberikan dampak positif bagi setiap negara. Masalah ekonomi tadi, memberikan kita kesimpulan sebagai berikut.
  • Negara akan dipaksa untuk terus bergerak dan berpikir.
  • Seharusnya tak ada negara "adidaya" karena setiap negara memiliki masalah ekonominya masing-masing.
  • Kemajuan ekonomi tak bisa diukur hanya dengan angka, seperti anak sekolah yang dikategorikan cerdas bila mendapat nilai 10 dan bodoh bila mendapat nilai 5. Bagaimana bila yang mendapat nilai 10 tersebut adalah tukang contek dan bagaimana bila yang mendapat nilai 5 tersebut adalah siswa yang jujur? Begitu pula dengan negara. Bagaimana bila negara tersebut kaya tapi dari hasil menjual barang-barang terlarang? Dan, bagaimana bila sebaliknya.
  • Masalah pertumbuhan ekonomi secara tidak langsung membuat semua negara di dunia ini saling terhubung, karena tak ada negara yang bisa hidup sendiri.
Jadi, terlepas dari apapun, masalah pertumbuhan ekonomi yang dihadapi oleh setiap negara akan menjadikan negara tersebut lebih "segar" dan selalu hidup. Hadapi dan berbuatlah lebih untuk mengatasinya.

3.2 Saran
            Dari latar belakang dan pembahasan diatas penulis menyarankan agar ekonomi pembangunan di Negara berkembang lebih signifikan dan terarah dimaksud agar kesejahteraan rakyat pada Negara tersebut mengalami peningkatan dengan ditandainya pendapatan per kapita (per orang) semakin meningkat setiap tahunnya.

DAFTAR PUSTAKA

1.        Prayitno, Hadi .Buku Ekonomi Pembangunan, Penerbit Ghalia Indonesia
2.        R. E. Baxter dan Evan Davis. 2004. A Dictionary of Economics. Inggris: Penguin Books Ltd
4.        http://www.anneahira.com/masalah-pertumbuhan-ekonomi.htm


0 komentar:

Poskan Komentar

 
;